Siwa Ratri Malam Pejagraan

Juni 4, 2009

Hari raya Siwa Ratri adalah salah satu bentuk ritual Agama Hindu yang mengajarkan kita agar selalu memelihara kesadaran diri agar terhindar dari perbuatan yang tidak baik atau dosa.  Maka dari pada itu setiap tahun pada sasih kepitu (bulan ketujuh menurut penanggalan Bali), dilangsungkan upacara Siwa Ratri dengan inti perayaan malam pejagraan.

Pejagraan berasal dari kata “jagra” yang artinya sadar atau eling. Orang yang selalu jagra adalah orang yang dapat menghindarkan dirinya dari perbuatan yang tidak baik (asubha karma). Dalam Bhagavadgita III, 42, dinyatakan, orang akan memiliki alam pikiran jernih, apabila atman atau jiwa yang suci itu selalu menyinari budhi atau alam kesadaran. Budhi (kesadaran) itu menguasai manah (pikiran). Manah menguasai indria. Kondisi alam pikiran yang struktural dan ideal seperti itu amat sulit mendapatkannya. Orang yang selalu sadar akan hakikat kehidupan ini, akan selalu terhindar dari perbuatan dosa. Orang bisa memiliki kesadaran, karena kekuatan budhinya (yang menjadi salah satu unsur alam pikiran) yang disebut citta. Melakukan brata Siwa Ratri pada hakikatnya akan menguatkan unsur budhi, jika budhi kita kuat maka budhi itu akan mampu menguatkan pikiran atau manah kita sehingga dapat mengendalikan indria atau Tri Guna.

Siwa Ratri adalah malam untuk memusatkan pikiran kepada Sang Hyang Siwa untuk mendapatkan kesadaran agar terhindar dari pikiran yang tidak baik. Karena itu, Siwa Ratri lebih tepat jika disebut malam kesadaran atau malam pejagraan, bukan seperti yang sering dikatakan sebagai malam penebusan dosa  oleh orang yang masih belum mendalami agama.

Siwa Ratri pada hakikatnya kegiatan Namasmaranam pada Siwa. Namasmaranam artinya selalu mengingat dan memuja Tuhan yang jika dihubungkan dengan Siwa Ratri adalah nama Siwa. Nama Siwa memiliki kekuatan untuk melenyapkan segala kegelapan batin. Jika kegelapan itu mendapat sinar dari Hyang Siwa, maka lahirlah kesadaran budhi yang sangat dibutuhkan setiap saat dalam hidup ini. Dengan demikian, upacara Siwa Ratri sesungguhnya tidak harus dilakukan setiap tahun, melainkan bisa dilaksanakan setiap bulan sekali, yaitu tiap menjelang tilem atau bulan mati. Sedangkan menjelang tilem kepitu (tilem yang paling gelap) dilangsungkan upacara yang disebut Maha Siwa Ratri.

Asal Usul Hari Raya Siwa Ratri

Brata Siwa Ratri pada mulanya hanya dirayakan oleh sejumlah pendeta di Bali dan Lombok. Namun pada tahun 1966, setelah hancurnya Komunisme di Indonesia, kesadaran akan kegiatan rohani kian bangkit. Tahun 1966 itulah, perayaan Siwa Ratri mulai dimasyarakatkan oleh Parisada dan pemerintah lewat Departemen Agama. Siwa Ratri dimasyarakatkan,  karena memang dianjurkan oleh kitab suci Hindu. Sejarah hari raya Siwa Ratri muncul dari cerita Lubdhaka, karya Empu Tanakung. Cerita ini menceritakan seorang pemburu yang bernama Lubdhaka melakukan himsa karma (perbuatan membunuh). Bertepatan dengan malam Tilem Kepitu, namun perburuan Lubdhaka hingga larut malam tanpa hasil. Menyiasati gangguan binatang buas, diceritakan untuk menghilangkan kantuk, Lubdhaka naik ke pohon Bila. Di atas pohon dia memetik daun. Tanpa disadari daun bila berjumlah 108 helai itu jatuh di atas lingga dari Dewa Siwa. Jumlah 108 itu merupakan angka keramat bagi umat Hindu. Sampai diceritakan Lubdhaka bertemu dengan Dewa Siwa. Oleh Dewa Siwa dosa-dosa Lubdhaka diberi pengampunan. Cerita Lubdhaka ini sampai sekarang menjadi inspirasi umat Hindu dalam melaksanakan perayaan Siwalatri sekaligus untuk melakukan shrada dan bhakti kepada Tuhan.

Tata Pelaksanaan Brata Siwa Ratri.

Brata Siwa Ratri dengan jagra tidaklah tepat kalau hanya begadang semalam suntuk tanpa arah menuju kesucian Tuhan. Jagra dalam pengertian yang sebenarnya adalah orang yang memiliki kesadaran budhi. Melek semalam suntuk hanyalah prilaku yang bermakna simbolis untuk memacu, tumbuhnya kesadaran budhi yang sebenarnya.

Tata pelaksanaan brata Siwa Rarti telah diseminarkan oleh PHDI Pusat bersama dengan IHD Denpasar tahun 1984. Hasil seminar tersebut telah ditetapkan oleh PHDI Pusat menjadi Pedoman Pelaksanaan Brata Siwa Ratri.

Brata Siwa Ratri dilaksanakan pada hari “Catur Dasi Krsna Paksa” bulan Magha yaitu panglong ping empat belas sasihkapitu.

Tujuan brata Siwa Ratri untuk menemukan kesadaran diri. Brata tersebut dilaksanakan dengan upawasa, monabrata dan jagra.

Mona artinya berdiam diri tidak bicara. Mona artinya bertujuan melatih diri dalam hal berbicara agar biasa bicara dengan penuh pengendalian diri sehingga tidak keluar ucapan-ucapan yang tidak patut diucapkan atau menyinggung perasaan. Mona berarti melatih pembicaraan pada diri sendiri dengan merenungkan kesucian.

Sehabis sembahyang atau meditasi dan japa biasakan melakukan mona atau agak membatasi berbicara. Hal ini akan bermaanfaat untuk memberikan kesempatan pada berkembangnya energi positif  untuk menggeser energy parasit.

Energi Positif dalam diri akan dapat memberikan kita kesehatan, ketenangan dan kesucian. Kalau tiga hal ini dapat kita miliki dalam hidup maka hidup yang bahagia lahir bathin akan semakin kita rasakan.

Demikianlah tiga tingkatan pelaksanaan brata Siwa Ratri berdasarkan nista madya utama. Dari segi makna amat tergantung kesungguhan sikap kita melaksanakan brata tersebut. Meskipun kita mengambil yang nista namun sikap yang melandasi ber-sungguh-sungguh, maka yang nista itu pun akan menghasilkan yang utama.

(diringkas  oleh Agus Arta Wibawa)
Sumber:

–           Buku “Yadnya dan Bhakti” oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka                Manikgeni)

–           http://www.babadbali.com/canangsari/hkt-hari-siwaratri-pelaks.htm

http://gdeariprima.blogspot.com/2009/01/hari-raya-siwa-ratri-siwaratri.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: